“Menjadi Guru Model dan Berkarakter”


HumIn-Peer Training pelatihan Guru Model

InNews. Selama 3 hari berlangsung, tanggal 11, 12, dan 13 Oktober 2019, Ustadz dan Ustadzah Sekolah Inovatif mengikuti pelatihan Guru Model dari KPI yang bekerjasama dengan YDSF Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Bawarasa Kabupaten Trenggalek. KPI merupakan konsultan pendidikan yang mempunyai visi menjadi pusat peningkatan kualitas guru dan sekolah terbaik di Indonesia. Jadi ini sesuai dengan Visi Inovatif yang Unggul dalam Prestasi, Islami dalam Berkemajuan. 

Pelatihan kali ini diberi nama Pelatihan Guru Model. Guru model adalah guru yang akan menjadi teladan, baik sesama guru/profesi, orang tua para murid dan masyarakat yang akan menjadi guru di rumah tangganya dan lebih penting lagi adalah teladan bagi peserta didiknya. Inilah yang dinamakan sebagai guru model. Sedangkan guru berkarakter adalah guru yang mentransfer nilai-nilai karakter positif atau yang baik terhadap murid/peserta didiknya, Karena para siswa itu sendiri akan meniru bahkan mengikuti jejak-jejak guru itu sendiri. Marilah kita tanamkan pada diri mereka sebuah ilmu dan karakter  yang baik yang akan mereka tiru apa yang ada pada diri kita.
Tugas Guru merupakan tugas yang sangat mulia, yakni guru yang menjalankan tugas dengan penuh dedikasi tinggi untuk mengemban misi mencerdaskan generasi masa depan bangsa. Namun, tidak sedikit pula guru yang hanya menjadikan profesi guru sebagai mata pencaharian atau malah menjadi “hamba” sertifikasi. Secara tidak sadar, itu sama saja mencoreng corp pendidik.  

Seperti kata Gordie Howe, “Berhentilah menjadi guru, jika tidak mencintai tugas mulia itu! Berikan kesempatan kepada orang lain yang lebih mencintainya.”

Oleh sebab itu mengapa “Menjadi Guru Model dan Berkarakter”. Apa tujuan untuk menjadi Guru Model dan Berkarakter?
Menjadi guru itu gampang dan mudah tetapi belum tentu bisa menjadi guru model dan berkarakter, karena guru model dan berkarakter sulit kita temukan. Guru model adalah model untuk orang lain atau guru-guru yang seprofesi dengan kita, oleh sebab itu menjadi guru model itu sangat penting karena guru model adalah contoh guru yang berdedikasi tinggi, yang akan banyak ditiru oleh orang lain, baik dari segi karakter maupun penampilan, kemudian dibangun lagi dengan guru yang berkarakter, karena karakter seorang guru harus bisa atau mampu mengubah keadaan atau karakter anak-anak didiknya menjadi lebih baik. Namun belakangan ini yang berkarakter adalah administrasi mengajar atau RPP. Jangan sekedar membuat RPP yang berkarakter tetapi juga menjadi guru–guru yang berkarakter itu jauh lebih penting. Dengan demikian, guru berkarakter akan menghasilkan juga anak-anak didik yang berkarakter pemimpin.

Sekolah dan para guru pada umumnya sekarang ini telah menciptakan administrasi mengajar atau RPP yang berkarakter, guru relatif kurang dididik untuk meningkatkan dan mempelajari karakternya. Ada yang namanya RPP berkarakter, Silabus berkarakter, model pembelajaran yang berkarakter dll. Padahal yang menjadi ujung tombak yang akan membawa, mengasah anak-anak didik sukses bukanlah administrasi mengajar. Administratsi mengajar juga penting tetapi yang lebih penting adalah ruh guru yang harus ditingkatkan. 

Seperti kata Ahmad Fu’adi, “Metode pendidikan boleh canggih, pelajaran boleh hebat, tapi di atas segalanya itu, ruh guru yang bersih dan berdedikasilah yang paling menentukan dalam menyamai generasi terbaik.”

Oleh sebab itu, guru harus memberikan sesuatu yang positif terhadap para peserta didiknya. Dan mampu memahami karakter peserta didiknya, bukan sekadar memahami karakter sendiri karena guru adalah orangtua kedua para siswa, jadi guru harus mampu memahami dan mempelajari karakter peserta didiknya.
Ada 3 tugas pokok guru dalam sekolah dalam versi SGI (Sekolah Guru Indonesia) di antaranya;
  1. Guru sebagai pengajar yaitu guru yang mentransfer pengetahuan (knowledge) kepada peserta didiknya.
  2. Guru sebagai pendidik yaitu guru yang mentransfer nilai-nilai (value) baik dari segi tingkah lakunya, sikap ataupun karakter.
  3. Guru sebagai pemimpin yaitu guru yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin untuk peserta didiknya dan mengajarkan kepada peserta didiknya tentang pemimpin.
Jadi, guru yang disertifikasi ataupun PNS bukanlah jaminan menjadi guru professional, karena yang disertifikasi dan PNS itu belum tentu profesional dalam hal mengajar, mendidik, dan memimpin dan belum tentu mampu memahami karakter siswa, dan bahkan bisa dipastikan belum tentu bisa menjadi model buat guru-guru yang lain ataupun siswa yang menjadi objek utama dalam dunia pendidikan. Guru professional adalah guru yang mencakup dua hal utama yaitu guru model dan berkarakter. Banyak orang mengatakan, guru professional adalah guru yang disertifikasi atau PNS, padahal tidak demikian. Guru professional adalah guru yang mampu mengasah, dan menggali kemampuan serta memotivasi siswa-siswinya, menghargai hasil karyanya, dan imajinasinya. Selain itu, guru professional juga mampu memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya, bukan mengubur kemampuan siswa, namun justru menggali kemampuannya sebagaimana ungkapan Direktur Sekolah Guru Indonesia (SGI), “Guru yang hebat adalah guru yang mampu mencetak dan mendidik siswa yang lebih hebat dan unggul dari dirinya.” Tapi yang terjadi di zaman pendidikan sekarang ini malah sebaliknya, guru yang mengasah kemampuannya sendiri, menganggap dirinya lebih pintar dari pada muridnya, menganggap telah profesional dalam mendidik.

Ada sebuah pertanyaan “untuk apa menjadi guru Model? Saya yakin bapak-bapak, ibu-ibu yang telah mengabadikan profesinya sebagai guru akan mampu merealisasikan, memahami tujuannya sebagai guru yang handal dan profesional dan saya pribadi mengajak para guru (ustadz/ustazdah) SD Inovatif pada khususunya dan di seluruh Indonesia pada umumnya untuk mengabdikan profesi kita sebagai guru yang mampu memberikan yang terbaik untuk generasi muda Indonesia yang berkarakter  religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong serta integritas. Dan menjadi guru sebagai Investasi untuk Indonesia. Siapa mereka yang paham arti ‘Investasi untuk Indonesia’? Semoga saya, Anda dan orang-orang yang telah mengabdikan dirinya sebagai guru di seantero penjuru Nusantara.
Penulis: Edsis
Editor: Jun Ikhsan

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siswa Kelas Lima Bisa Membuat Alat Peraga Pernapasan Manusia

Asyiknya Mencoba “Rangkaian Listrik Seri dan Paralel”

ES LILIN TANPA KULKAS