Anak Berbakat dan Bertalenta


Richard L Arends adalah profesor Kepemimpinan Pendidikan dan Dekan Emiritus di Universitas Negeri Connecticut Pusat di jurusan Pendidikan dan menjabat dalam bidang Permasalahan Akademis dari tahun 1991 hingga 2004. Dalam bukunya yang berjudul Learning To Teach dan diterjemahkan oleh Made Frida Yulia beliau menjabarkan banyak permasalahan dalam pendidikan salah satunya adalah tentang anak berbakat dan bertalenta.

Berbagai macam pro dan kontra terjadi dalam beberapa tahun belakangan tentang perlunya kelas khusus untuk siswa berbakat dan bertalenta. Beberapa pemikir pendidikan meyakini bahwa menyediakan kelas khusus untuk anak anak dengan kemampuan lebih adalah hal yang elitis serta tidak demokratis. Mereka yakin yang lebih diutamakan perkembangannya adalah siswa siswa yang kurang  baik dalam pemahamannya. Kenyataan juga membuktikan bahwa di sekolah banyak siswa siswa berbakat dan bertalenta tapi tidak diketahui (Gallagher& Gallagher 1994: Winner 2000). Siswa siswa yang tidak diketahui tersebut bisa jadi menyembunyikan talenta dan bakatnya karena berbagai faktor : siswa tersebut malu menunjukkan kelebihannya karena takut diolok olok temannya, mereka juga menyembunyikan baklat dan talentanya karena tidak ada faktor yang menunjang perkembangan bakat tersebut, mungkin siswa tersebut tidak menunjukkan karena tidak mau ada pekerjaan tambahan dangan munculnya tantangan tantangan baru.

Para pendidik selama ini tidak memiliki konsep secara terstruktur tentang bagaimana sebenarnya siswa terdidik dan bertalenta itu. Secara umum pendidik berkesimpulan bahwa siswa berbakat dan bertalenta adalah siswa yang memunculkan IQ tinggi. Siswa siswa ini dianggap mampu dalam hal kognitif sehingga disebut siswa berbakat dan bertalenta. Sternberg (1985, 2002) dan Gardner (1983, 2002) telah memprotes tentang tunggalnya intelegensi dan mengusulkan adanya intelegensi ganda dan berakibat mempertanyakan apakah siswa siswa berbakat itu juga termasuk memiliki intelegensi ganda.
Siswa berbakat serta memiliki talenta memiliki beragam karakteristik. Richard L Arends mengungkapkan bahwa anak berbakat dan bertalenta memiliki fungsi kognitif istimewa, kemampuan  mengingat banyak informasi, proses berfikir yang fleksibel, ketrampilan memecahkan masalah yang kreatif, kosa kata yang luas, pengetahuan yang luas mengenai sesuatu hal, talenta seni dan fisik yang unggul, ketrampilan metakognitif yang luar biasa, dan standar standar kinerja yang tinggi. Turnbull dan koleganya (2010) menyusun karakteristik ini menjadi lima kategori agar guru mendapatkan petunjuk dalam mengamati serta mengidentifikasi siswa siswa berbakat dan bertalenta.

Intelegensi umum

Siswa dengan kategori intelegensi umum mampu menangkap berbagai konsep yang kompleks dan abstrak dengan  cepat. Siswa jenis ini mempunyai kosa kata yang lebih maju daripada rata rata, memiliki banyak pertanyaan yang bermutu, dan memahami permasalahan secara unik dan kreatif.

Kemampuan akademis khusus

Siswa berbakat memiliki kemampuan akademis yang lebih tentang informasi dan ketrampilan dibandingkan teman temannya seperti dalam matematika, inkuiri ilmiah atau menulis karena mereka gemar membaca buku buku yang dipelajari orang orang yang lebih dewasa dalam penalaran. 

Pemikiran produktif kreatif

Siswa siswa berbakat dan bertalenta memiliki kualitas  yang ditunjukkan dalam intuitif, wawasan, keingintahuan dan fleksibel, mereka seringkali berani mengambil resiko dan kadang memiliki selera humor yang tinggi

Kemampuan memimpin

Beberapa biswa berbakat memiliki ketrampilan interpersonal dan intrapersonal dalam memotivasi dan memimpin sesama

Karya seni visual dan peran

Beberapa siswa berbakat memiliki talenta seni visual, fisik ataupun peran. Anak anak berbakat mendahului teman temanya dalam penguasaan ketrampilan fisik dan artistik lebih cepat. Siswa siswa yang tidak memiliki kemampuan dalam kognitif  mungkin juga memiliki bakat dLm seni virtual dan peran yang cepat berkembang. Beberapa figur seperti Stevie Wonder, Van Gogh,  dan John Nash adalah seniman seniman yang menjadi contoh ketrampilan seni virtual dan peran. 
Rujukan :Richard L Arends, Belajar untuk Mengajar Learning to Teach, Penerbit Salemba Humanika : 2013

Kamas Tontowi, Guru Bhs Inggris MTsN 3 Trenggalek, Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Trenggalek 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siswa Kelas Lima Bisa Membuat Alat Peraga Pernapasan Manusia

Asyiknya Mencoba “Rangkaian Listrik Seri dan Paralel”

ES LILIN TANPA KULKAS