Siswa Disabilitas dalam Kelas Reguler

Wikipedia mengungkapkan difabel (difable-different ability) dan disabilitas memiliki makna yang agak berlainan. Difabel didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang orang kebanyakan, serta belum tentu diartikan sebagai “cacat” atau disabled. Sementara itu disabilitas didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu  berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan disabilitas. Seperti anak anak yang lain mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam pendidikan.

Lembaga-lembaga pendidikan umum sering kali menerima siswa dengan ketidakmampuan atau disabilitas. Beberapa lembaga pendidikan memasukkan mereka kedalam kelas reguler tanpa ada perlakuan khusus. Pengelola lembaga seringkali tidak memiliki panduan khusus dalam mendampingi siswa dengan ketidakmampuan ini. Siswa siswa ini harus memiliki panduan yang disebut IEP atau Individual Education Plan, tidak dibiarkan saja berbaur. Beberapa siswa dengan ketidakmampuan ringan belajar dengan kelas reguler secara penuh. Siswa dengan ketidakmampuan serius harus mendapatkan penanganan serius yang disepakati oleh pimpinan lembaga, komite, wali kelas, BP dan orang tua dengan program khusus. Apabila siswa telah bertumbuh lebih serius dalam belajar berarti beban pimpinan sudah berkurang.

Richard L Arends mengungkapkan bahwa Undang Undang Pendidikan untuk Semua Anak Cacat (Education for all Handicapped Children Act-EAHCA berdiri pada tahun 1975 undang undang tersebut sekarang menjadi Undang Undang Pendidikan untuk Individu dengan Disabilitas (Individuals with Disabilities Education Act disebut juga IDEA) melindungi hak hak semua orang dengan disabilitas kogntif, emosi, atau fisik dari lahir sampai umur 21 tahun. Undang undang ini sebagai respons terhadap ketidak adilan dan diskriminasi dalam pelayanan  yang disediakan bagi anak anak dan orang dewasa disabilitas dan kebutuhan khusus. IDEA bertujuan memastikan adanya pendidikan publik yang tepat dan gratis bagi semua anak anak dengan kondisi yang tepat bagi kebutuhan mereka. Undang undang ini menjamin proses yang sesuai dengan memperkenalkan konsep mainstreaming, strategi memindahkan anak anak dengan ketidakmampuan tingkat rendah dari pendidikan khusus kedalam kelas reguler. 

Konsep inklusi bertujuan lebih luas, meningkatkan standar pada anak anak yang disabilitas parah kedalam kelas kelas reguler.
Keuntungan pendidikan sistem ini mengurangai diskriminasi dan membuat anak anak dengan kebutuhan khusus dalam kelas reguler memiliki kesempatan untuk belajar perilaku sosial serta akademis dalam pengamatan terhadap siswa lain. Anak anak yang tidak memiliki ketidak mampuan juga memiliki keuntungan mempunyai pengetahuan kekuatan dan kontribusi potensial dan kekurangan dari rekan rekan yang tidak mampu.

Richard L Arends 2013 mengungkapkan beberapa karakter siswa yang termasuk dalam kelompok disabilitas dan karakteristiknya
Disabilitas atau penundaan perkembangan. Siswa ini memiliki penundaan perkembangan dalam bidang : perkembangan komunikasi, perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosi, perkembangan adaptif termasuk autisme
Tuli-buta. Siswa memiliki gangguan pendengaran dan penglihatan secara bersamaan : kadar dapat bervariasi
Ketulian. Siswa memiliki gangguan pendengaran yang parah
Gangguan emosional.siswa memiliki kesulitan dalam hubungan sosial dan emosional
Gangguan pendengaran. Siswa memiliki gangguan pendengaran yang signifikan. Kadar gangguan bervariasi.
Keterbelakangan mental. Siswa memiliki disabilitas fungsi mental,  dan kemampuan kognitif dibawah rata rata.
Disabilitas ganda. Siswa memiliki dua atau lebihdisabilitas yang saling terkait.
Gangguan ortopedi. Siswa memiliki disabilitas fisik yang serius. Kemampuan mereka dalam bergerak terganggu
Gangguan kesehatan lain. Siswa memiliki disabilitas pada kondisi kondisi yang merupakan akibat dari masalah masalah kesehatan atau penyakit kronis
Disabilitas dalam pembelajaran khusus. Ssiwa memiliki ketidakteraturan dalam satu atau lebih proses psikologis dalam memahami dan menggunakan bahasa
Gangguan bicara atau bahasa. Siswa memiliki ketidak teraturan komunikasi seperti gagap atau gangguan artikulasi.
Cedera otak atau trumatik. Gangguan intelektual dan fisil yang diakibatkan cedera otak
Gangguan penglihatan. Siswa memiliki kehilangan penglihatan yang signifikan ; kadar dapat bervariasi. 

Ditulis oleh: Kamas Tontowi
Rujukan
Richard L Arends, Belajar untuk Mengajar Learning to Teach, Penerbit Salemba Humanika : 2013

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siswa Kelas Lima Bisa Membuat Alat Peraga Pernapasan Manusia

Asyiknya Mencoba “Rangkaian Listrik Seri dan Paralel”

ES LILIN TANPA KULKAS