Survey Pembelajaran Daring SD Muhammadiyah 1 Trenggalek


InNews-6/8/20. SD Muhammadiyah 1 Trenggalek menggelar angket daring terhadap orang tua siswa berkaitan dengan efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) secara online yang kini dilakukan sekolah tersebut. Sasaran angket adalah seluruh orangtua siswa yang berjumlah 416 siswa. 

“Angket dilakukan untuk dijadikan dasar untuk melangkah dalam melakukan kegiatan selanjutnya agar lebih baik lagi. Sekaligus untuk mengetahui efektivitas kegiatan belajar mengajar secara online,” jelas Humas SD Muhammadiyah 1 Trenggalek, Junianto Ikhsan melalui obrolan santai, Kamis(6/8).


Ikhsan mengemukakan, dari jumlah itu hanya 76.9% atau sekitar 320 orangtua yang merespon dari keseluruhan siswa sebanyak 416. Masih sekitar 96 atau 23,1% orangtua yang belum mengisi angket. 

Ikhsan, yang saat ini diamanahi menjadi pelaksana tugas kepala sekolah, juga menegaskan bahwa ada 10 pertanyaan dalam angket survey yang dikeluarkan oleh SD Muhammadiyah 1 Trenggalek. 9 pilihan ganda dan 1 saran dan kritik terkait pembelajaran daring di masa Pandemi Covid-19.

Lebih lanjut Ikhsan mengungkap pertanyaan pertama tentang pengaruh "jadwal harian siswa" terhadap kegiatan daring yang diadakan sekolah. Sekitar 59,1% menyatakan berpengaruh, sedangkan 32,8 % menyatakan sangat berpengaruh dan 8,1% menyatakan tidak berpengaruh.

Pertanyaan kedua tentang keefektivan kegiatan pembelajaran daring. Sebanyak 54,4% menjawab cukup, 27,2% menjawab kurang dan 18,4% menjawab sudah. Pertanyaan ketiga tentang penggunaan HP sebagai media daring. Sebanyak 61,9% menjawab menggunakan HP milik orangtua/saudara, 28,1% menjawab menggunakan HP milik sendiri dan 10% tidak menggunakan HP.

Pertanyaan keempat tentang sambungan internet yang dimiliki orangtua di rumah. Sebanyak 54,1% menggunakan paket data seluler, sedangnkan 43,8% menggunakan sambungan wifi sendiri dan 2,2% menggunakan sambungan wifi tetangga (numpang). Pertanyaan kelima tentang proses pembelajaran dan pengerjaan tugas di rumah. Separo responden, tepatnya 50,6%, belajar didampingi orangtua/saudara, sedangkan 32,8 belajar menunggu orangtua pulang kerja dan 16,6% mengerjakan secara mandiri.

Pertanyaan keenam tentang beban tugas daring yang diterima siswa. Sebanyak 70,9% menjawab cukup berat sedangkan 22,5% menjawab tidak berat dan 6,6% menjawab berat. Pertanyaan ketujuh berkaitan dengan pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan Ustadz/ustadzah kepada siswa. 58,1% menjawab cukup bisa dimengerti dan dipahami, 36,3% menjawab bisa dimengerti dan dipahami sedangkan 5,6% menjawab tidak bisa dimengerti dan dipahami.

Pertanyaan kedelapan tentang aktifitas siswa setelah kegiatan pembelajaran daring. Sebanyak 63,1% menjawab melakukan aktifitas lain setelah mengerjakan tugas daring, sedangkan 18,8% asyik bermain HP dan 18,1% beristirahat. Pertanyaan kesembilan tentang hambatan yang ditemui siswa dan orangtua saat pembelajaran daring. Nilai tertinggi yaitu 51,6% menjawab kurang memahami materi, sedangkan 30,6% menjawab tidak ada hambatan. Sisanya sebanyak 15% menjawab karena signal HP dan 2,8% tidak memiliki HP.

Itulah survey yang berhasil kami kumpulkan. Selain hasil di atas juga ada saran dan kritik orangtua siswa terkait pembelajaran daring. Saran dan kritik yang berhasil kami kumpulkan dan analisis yaitu:
1. Orangtua menghendaki siswa masuk sekolah sebanyak 35%
2. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan sehingga pembelajaran belum bisa maksimal sebanyak 30%
3. Sebanyak 20% menyarankan jangan terlalu banyak tugas
4. Sebanyak 15% menyarankan pembelajaran menggunakan virtual. Bisa melakukan video Conference, pembelajaran menggunakan zoom atau juga bisa menggunakan google meet yang pada intinya ada pembelajaran dua arah.

Ditulis oleh: Beti Restiningsih
Analisa Survey: Allan Sepkario dan Nurcholisotul Utami

Lihat berbagai video pembelajaran di

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siswa Kelas Lima Bisa Membuat Alat Peraga Pernapasan Manusia

Asyiknya Mencoba “Rangkaian Listrik Seri dan Paralel”

ES LILIN TANPA KULKAS